February 2016
S M T W T F S
« Oct    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
2829  

Cuma Iseng

11 Oktober 2012, pukul 23.04
Ketika aku merenungkan diri duduk diluar kamarku saat gelap malam menyelimuti langit, teringat kembali sebuah goresan pena yang pernah ku tulis diantara lembaran-lembaran kertas tentang sebua fiksi yang ku idamkan. Meski cerita tersebut sampai sekarang tak pernah lagi ku sentuh dan kubiarkan terdiam dalam lusuhan kertas. Aku mencoba menulusuri kembali memori alur cerita yang ingin aku susun menjadi sebuah paragraf indah. Lambat laun, kebosanan mulai kembali membatasi aku dan lembaran kertas yang masih ku pegang. Ada perbedaan mendasar memang antara seseorang yang ahli dengan amatiran. Jika ada yang merasa dirinya ahli, maka tentu ada yang namanya amatiran alias pecundang. Sebuah kalimat dari sebuah komik favoritku lansung terngiang-ngiang dalam pikiranku. Seolah menari-nari indah diantara memori yang lain. “Selama masih ada cahaya, maka selama itu akan ada bayangan”. Aku menangkap dua makna berbeda dari seutas kalimat pendek tapi menurutku dalam. Pertama, selama masih ada yang namanya ‘pemenang’, maka akan selalu ada yang namanya ‘pecundang’. Kedua, selama masih ada kemauan dalam kehidupan, maka selama itu pula ada jalan menuju pencapaian keinginan tersebut. Aku sering mendengar dari orang lain bahwa mereka yang sukses selalu bekerja keras. Sepertinya dua makna tersebut memiliki korelasi mengingat cara berjuang orang-orang sukses yang pernah kutemui. Pemenang selalu berkeyakinan ada jalan keluar setiap masalah yang mereka hadapi. Sementara pecundang hanya meratapi masalah yang ada dihadapannya. Tentu setiap orang tidak ada yang ingin menjadi seorang pecundang. Sekedar ‘tidak ingin’ saja masih belum cukup untuk menghindari dari yang namanya ‘pecundang’. Perlu ada implementasi dan aplikasi nyata dari ‘ketidakinginan’ tersebut. Itulah garis merah yang membatasi pecundang dan pemenang. Lalu, dimanakah saya berada? Hmm… aku yakin, aku sedang berada dijalan menju kemenangan. Insya allah…
Tanpa terasa, tulisan ini meluber kemana-mana. Hehehe… aku hanya mengikuti arus jariku dan gertakan hati yang ingin menumpahkan sesuatu dikepala ku melalui lembaran ini.
Hari ini berjalan lancar. Aku melakukan rutinitasku sehari-hari sebagai mahasiswa. Tidak ada garis khusus yang ingin aku tuliskan. Tapi, setidaknya ada tiga pelajaran penting penting yang aku dapatkan hari ini. Semoga saja pelajaran ini menjadi sebuah manfaat bagi diriku sendiri dan orang lain yang berkenan (sempat) membaca tulisanku, hehehe…
Siang itu sekitar pukul sebelas, aku melakukan praktikum salah satu mata kuliah. Hari ini dosen praktikum hanya satu orang dari dua kelas. Keadaan tersebut mesti dinikmati. Tapi, bukan itu yang sebenarnya ingin aku paparkan. Ketika sebuah pertanyaan terlontar dari mulut seorang pengajar menguji kesiapan mahasiswanya, aku mencoba menjawab dengan sebisaku. Entah kenapa, jawaban yang ku lontarkan malah berbanding terbalik dengan yang ada di isi kepalaku. Hanya terselip sebuah kata yang seharusnya tidak boleh ada dalam jawaban yang sebenarnya. Alhasil, bisa ditebak. Jawaban tersebut jelas-jelas salah dan mengundang kritikan dosen. Aku tau telah memberikan jawaban yang salah. Dan aku sadar letak kesalahannya tersebut. Setidaknya, aku telah memberanikan diri memperjuangkan sesuatu yang aku yakini benar. Yang namanya proses belajar maka wajar sajalah ada sedikit kesalahan. Tapi bukan itu yang membuat ku menjadi sedikit tertawa. Ketika hal tersebut menjadi sebuah perbincangan oleh orang lain yang seolah-olah memojokkan ku dan condong menyalahkan ku, aku jadi ingin melontarkan sebuah statement pada mereka yang “culun-culun” itu. ‘Sejak kapan kalian membuang ideologi yang pernah kalian banggakan itu’ ?. Ketika dosen memberikan sebuah pertanyaan yang bertujuan memancing motivasi mahasiswanya untuk berpendapat dan berpikir, ketika itu kalian semua hanya diam termangu. Kalian semua hanya berani mengeluarkan suara bak lebah berkicau yang tak jelas arah datang dan asalnya. Ketika kalian ditantang memberikan pendapat secara pribadi, ketika itu juga kalian diam seribu bahasa. Saya hanya mencoba memaparkan sesuatu yang saya yakini benar adanya meskipun pada akhirnya salah. Tapi bagaimana denga kalian? Hanya diam dan seolah-seolah tahu jawaban yang sebenarnya? Berlagak seolah-olah kalian berani mempertahankan keyakinan kalian?
“Mampus lo dimarahin pak xxx. Makanya jangan ngomong lo. Gua aja kapok nanya atau ngejawab pertanyaan beliau. Kagak mau lagi gua nanya-nanya ke beliau”. Begitulah sebuah suara sumbang yang dengan bangganya ngomong dihadapanku. Aku jadi tertawa. Bukan tertawa bersamanya, tapi menertawakan dia! Kalau anda hanya diam lantas buat apa anda belajar? Jika anda sesuatu yang tidak anda ketahui, lantas kenapa anda menyembunyikannya? Takut ditanya balik? Lalu buat anda belajar jika isi otak anda dipenuhi ketakutan? Ayolah orang yang merasa pintar, sadari itu. Lagi pula, saya jadi tahu bahwa berpikir dan cermat terlebih dahulu sebelum berbicara. Kritikan sang dosen menyadarkan saya bahwa saya mesti lebih teliti lagi. Mulai hari ini, dan seterusnya.
Kemudian ada satu hal lagi yan menggilitik hati saya. Hehehe, karena digelitik jadi geli. Ketika sebuah praktikum disore hari sedang berlangsung, aku mengajukan diri untuk menjadi bagian orang yang mengumpulkan semen. Bukan semen cor tembok lho, tapi semen sperma sapi. Sepertinya ada orang lain yang meragukan bahkan terkesan meremehkan bahwa aku tak bisa melaksanakannya dengan baik. Memang benar sapi itu besar dan tubuh saya memang rendah. Tapi anda pikir itu akan menjadi penghalang saya untuk tidak berhasil gitu? Lalu anda merasa berhak membatasi orang lain gitu? Anda merasa orang lain lebih pantas gitu? Kenapa tidak anda saja yang melakukannya kalau memang berani menilai rendah orang lain?
Itulah manusia, suka lupa bahwa dirinya juga memiliki keterbatasan. Mungkin hanya itu yang bisa aku tulis hari ini, semoa bermanfaat bagi diriku.
Oh ya, ingatkan aku jika aku salah ^_^. Semoga mimpi kalian menyenankan kawan.

Seuntai Kata Menjelang Tidur

Selamat malam para pembaca. Sesuai judul yang saya tulis, malam ini hanya ingin menumpahkan unek-unek yang berkecamuk tidak begitu jelas dalam bayanganku. Sebenarnya saya sendiri juga bingung akan mau menulis apa, tapi entahlah tanganku seperti bergerak sendiri mencoba menggoreskan beberapa huruf yang akan dirangkai menjadi menjadi sebuah kalimat-kalimat yang akan menari-nari dalam paragraf.

Malam ini saya sepertinya mengalami kesulitan memejamkan mata. Saya mencoba membuka kembali file-file cerita bersambung yang sempat saya tulis beberapa bulan yang lalu. Cerita sebuah kasus pembunuhan yang mengingatkan kembali akan alur cerita yang saya buat saat itu. Gaya penulisannya memang masih kasar, maklum saya hanya seseorang yang ingin belajar dulu dengan mencoba sesuatu yang baru. Halaman demi halaman saya runutkan kembali untuk mendapatkan deskrpsi karangan yang saya inginkan sebenarnya. Meski terkadang sulit memahami gaya tulisan sendiri. Aneh memang, saya seakan-akan membaca tulisan orang lain. Padahal, saya sendiri yang menulis.

Saya jadi teringat lagi ketika pertama kali saya menulis cerita bersambung tersebut. sebuah judul yang ingin saya munculkan ke permukaan bertemakan tentang upaya pembunuhan dan pengungkapan pelaku yang sebenarnya. maksud hati ingin membuat sebuah karangan yang fiktif serta intuitif, tapi sepertinya alur cerita dan gambaran tokoh-tokoh yang saya maksud gampang ditebak. Belum lagi saya mengalami kesulitan memberikan gambaran deskripsi kejadian yang sebenarnya. Sesuatu yang terasa “wah” justru menjadi hambar. Ibaratnya, seperti semangkuk sup yang tidak berasa garamnya. saya mencoba untuk menulusuri kembali letak kekurangan garam tersebut. Tapi seperti macet yang melanda jalan-jalan raya, setelah ditelusuri saya seperti terbawa dalam putaran yang tiada berhenti. Seakan-seakan saya memberikan sebuah solusi, tetapi malah membawa kepada sebuah kebingungan yang baru. Mencoba memandangnya menjadi sesuatu yang simpel, malah garamnya menjadi berlebihan.

Pembaca yang berbudiman, menulis memang tidak mudah. tetapi juga tidak sepenuhnya rumit. Kita hanya perlu menentukan titik orientasi, jalur yang mesti ditempuh oleh alur tulisan, dan akhirnya kita akan membuat sebuah tulisan penuh makna.

Selamat malam,

Belajar Menulis

Apa arti sebuah tulisan dalam kehidupan manusia? Dahulu kala seblum manusia mengenal teknologi komunikasi berupa telepon genggam, surat merupakan sebuah media/wadah berkomunikasi dengan orang lain yang jauh disana. Kini, dengan segala kecanggian dunia, menulis semakin terbantu dengan adanya komputer, telepon genggam yang menyediakan fitur layaknya sebuah komputer, dan lain-lain. Namun,semakin maju sebuah zaman kecendrungan manusia menulis semakin turun. Jika kita mau merenung sejenak, sebuah tulisan dapat mengubah dunia. Sebuah tulisan dapat menyadarkan kita arti penting gagasan.
Malam ini, atas dasar itu saaya menjadi tertarik lagi untuk belajar sebuah penulisan sederhana. Tidak peduli tulisan saya ini akan menarik perhatian atau tidak, setidaknya saya hanya ingin menulusuri kembali sesuatu yang pernah saya minati.
Menuangkan sebuah gagasan dalam secarik kertas atau menumpahkan sebuah ide dalam paparan LCD komputer memang susah-susah gampang. Lebih banyak susahnya daripada gampannya. Ketika itu saya jadi teringat sebuah pesan dari dosen saya “Dunia ini tidak ada sesuatu pun yang sulit dilakukan, hanya saja rumit.” Benar sekali, dunia penuh dengan ketidakpastian. Selalu ada kesenjangan antara harapan dengan kenyataan. tantangan dalam hidup ini tidaklah sulit kawan, hanya saja sedikit rumit. Kerumitan itu yang membuat kita mesti mencari jalan keluar sekecil apa pun jalan itu. Rumit berarti selalu ada penyelesaian terhadap tantangan yang dihadapi. Kesulitan dalam menulis tidak berarti membuat saya menyerah begitu saja.
Seorang penulis besar mempunyai 24 jam dalam seharinya, saya pun juga demikian. Lalu, kenapa mesti menyerah jika orang lain bisa? Tidak ada alasan untuk menyerah. Kegagalan yang sebenarnya adalah ketidakmampuan diri untuk berani mencoba sebuah tantangan.
Hei, mungkin hanya itu yang bisa saya tulis malam ini, semoga bisa menginspirasi diri saya sendiri. ^_^